Jumat, 25 Desember 2015

Karya Tulis Lepas : REORIENTASI WACANA POPULER POLIGAMI



Poligami. Delapan kata controversial di telinga kaum hawa. Bagaimana tidak, karena lagi dan lagi menyangkut hati serta cinta. Sebuah rasa yang amat sensitif bagi wanita, merupakan hal yang mampu mengubah wanita sederhana menjadi gelap mata hingga marah membabi buta. Entah apa yang ada dimata kaum pria, hal yang dapat kita tangkap sebagai wanita hanyalah tawa penuh kemenangan darinya apabila perkara poligami diperbingcangkan didepannya. Seolah-olah mendapat durian runtuh serta hujan milyaran uang saja. Mustahil apabila tidak ada rasa senang karena hanya pria yang mampu dan boleh melakukan, sedang wanita diharamkan atasnya. Ya, Poligami dianjurkan sedang Poliandri diharamkan. Sebuah diskriminasi apabila ditafsirkan makhluk-makhluk awam yang tidak memahami makna pengharaman.
            Poligami. Sebuah hal tak lazim dan mampu membuat pelbagai spekulasi bagi kaum hawa. Jangankan mencicipi, melihatnya  saja sudah sangat tak bernafsu. Jangankan mengiklaskan, untuk sekedar mengatakan ‘Ya’ saja sungguh tidak mampu. Bohong jika ada yang mengaku mampu dan ikhlas menerima, karena sejatinya wanita itu egois dan lembut hatinya.  Faktanya, kebanyakan wanita segera mengerutkan kening, merinding, menggetarkan bahu hingga meneteskan puluhan rintik hujan yang  sudah tidak mampu dipertahankan dalam bendungan, Oleh karena itu, pahamilah para lelaki. Perasaan seorang istri jauh lebih halus dari halusnya debu. Jauh lebih tersaayat melebihi daging yang diiris pisau berkarat.
Didalam Quran surah An-Nisa; 3, Allah SWT berfirman   yang terjemahnya :
“... maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. Atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
Tanpa mendalami ayat itu pun telah nampak dengan sangat jelas, bahwa Allah sendiri didalam ayat-ayat cinta-Nya menyampaikan anjuran untuk berpoligami bagi lelaki. Tentu merupakan hal yang tak bisa dielak sebagai hamba beriman, harus percaya lagi meyakini dengan sepenuh hati dan tak boleh mengingkari. Tidak sulit bagi pria untuk mencari dalil untuk mengkokohkan keinginan berpoligami, karena Al-Quran sendiri telah memenuhi sebagai alasan yang tak terbantahkan.
Namun tidak semudah itu, Allah SWT kembali menegaskan dalam firman-Nya pada surah yang sama ayat 129 :
“Dan kamu tidak dapat berlaku adil di antara isteri-isterimu meskipun kamu sangat ingin berlaku demikian, karena itu janganlah kamu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan). Maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
Sebuah kabar gembira bagi kaum wanita, karena Allah berlaku adil sehingga menurunkan ayat diatas sebagai bahan renungan teruntuk kaum yang mengagung-agungkan poligami. Hemat kata, keadilan merupakan tolok ukur pertama dan paling utama bagi  Poligami Lovers sebelum melangkah maju dan mengikrarkan diri telah mampu untuk menghadirkan koleksi wanita baru.
Jika dilihat dari perspektif wanita sebagai makhluk penunggu nahkoda mejemputnya mengarungi samudera rumah tangga, maka Poligami jelas tidak adil dan merupakan sebuah diskriminasi. Tidak ada kesetaraan yang membuat wanita dapat dengan bangga menyatakan bahwa dirinya beruntung. Sangat tidak etis apabila seorang wanita telah begitu setia menunggu pangerannya, menerima pinangannya, dan mau mengikuti langkah suaminya, harus  jatuh martabatnya seketika hanya karena ketidakpuasan apalagi keterbatasan. Tidak adil bagi wanita, sangat tidak adil apabila karena kekurangan dan keterbatasannya dalam suatu hal membuat suaminya merasa bosan, tidak puas, lalu mencari tambahan dan sandaran baru untuk memenuhi hasrat hatinya. Sedang isteri sebelumnya, harga dirinya hancur dan ranjang kebanggaan menjadi kenangan.
Kaum adam harus paham dan megkaji ulang secara mendalam akan beratnya keputusan yang diambil para wanita untuk menancapkan kata ‘ya’ atau ‘siap’ untuk menerjunkan diri kedalam gerbang pernikahan. Seorang wanita akan mengalami perubahan besar ketika kata ‘siap’ meluncur dari bibirnya. Dengannya, semua masalah baru di alam kedewasaan bermula. Ya, wanita akan mengalami metamorphosis hebat apabila ia telah melangkahkan kakinya menuju pernikahan bersama lelaki pilihan. Awal mula, ia harus membuang jauh sifat ketergantungannya terhadap Ibu dan Bapak. Kedua, aka nada penghuni baru yang berlawanan jenis dengannya didalam satu ruang tertutup dan boleh melakukan apa saja terhadap ia serta tubuhnya. Ketiga, ia dituntut untuk mampu bersosialisasi terhadap siapa saja keluarga, sanak saudara, serta rekan suaminya. Selanjutnya, hal terbesar yang harus ia lalui adalah melahirkan generasi-generasi cinta antara ia dan suaminya, lalu kembali membagi kasih sayang dan membesarkan putera-puterinya dengan penuh pengorbanan.
Telah dipaparkan pada paragraph diatas, bahwa seorang wanita akan sangat mudah mengorbankan dirinya untuk para makhluk terkasih dihatinya. Meski demikian, jangan pernah mencoba untuk merendahkan dirinya melalui hubungan yang katanya sunnah Rasul junjugan. Hati wanita itu ibarat sutera, sangat lembut, dan memberi kenyamanan. Namun jika salah pengaplikasiannya, maka akan mempermalukan pemakainya.  Ketika laki-laki mampu menempatkannya pada posisi ternyaman, maka ia akan mencurahkan segala kemampuan kepada lelaki tersayang. Wanita itu sangat mendalam ketika mencintai, namun ketika ia disakiti sedikit saja, maka jangan salahkan jika ia akan hancur dan menghilang dari kepribadian manisnya. Wanita adalah makhluk ekspresif, jika ia cinta maka ia akan menyampaikan lewat tingkah lakunya. Oleh karenanya, ia jarang mampu mengungkapkan cinta lewat kata, karena baginya sebuah tindakan nyata adalah wujud cinta yang paling berharga. Tidak seperti pria yang biasanya menyampaikan iisi hatinya melalui kata saja, sedang perbuatannya nampak jauh dari rasa kata yang disampaikannya.
Pertanyaan klise dan sangat mendasar bagi kaum pria, tak mampukah bertahan pada satu hati dan menemaninya hingga akhir hayat? Sedikit sekali lelaki yang sadar bahwa bagi perempuan bahagia itu sangatlah sederhana. Mengutip kalimat Pak B.J Habibie, bahwa seorang perempuan tidak memerlukan laki-laki yang sempurna, cukup orang yang selalu membuatnya bahagia dan membuatnya lebih berarti dari siapapun di hatinya. Ya, wanita tidak membutuhkan materi dan berbagai aksesoris lainnya, mereka hanya priorotas nomor kesekian. Cukup perhatian, dan kehadiran yang menyadarkannya bahwa ia lah poros utama kehidupan pasangannya. Cukup dia, wanita lain kelaut saja (kecuali Ibu).
            Mungkin tidak terfikirkan oleh para lelaki, bahwa kecintaan seorang perempuan jauh melebihi rasa cinta lelaki kepadanya. Percayalah, ekspresi cinta perempuan jauh lebih berwarna daripada seorang lelaki. Karena cintanya, perempuan rela untuk meninggalkan kedua orang tua yang sejak bayi merawat dan melindunginya. Karena cintanya, ia rela berkumpul bahkan hidup satu atap bersama mertua serta adik maupun kakak iparnya. Karena cintanya, perempuan lagi-lagi rela mengorbankan dirinya untuk melahirkan generasi-generasi penerus cinta suaminya. Hingga seterusnya, pengorbanan-pengorbanan yang tak terkira batasnya. Faktanya, lebih banyak lagu-lagu yang mengagung-agungkan sosoknya daripada pengagungan kepada para lelaki. Itu artinya, peran wanita dan perasaan kasih sayangnya tidak akan pernah bisa terhapuskan. Hal inilah yang harus dibaca kembali oleh hati  para lelaki yang berniat untuk menambah isteri lagi, baik satu, dua, tiga, bahkan empat. Satu hal yang seringkali laki-laki lupakan dalam berpoligami, bagaimana perasaan isteri apabila barang berharga miliknya turut dinikmati perempuan selainnya? Tidakkah itu menyakitkan? Mengapa ada poligami dalam islam selain untuk Rasul junjungan?
            Sejatinya, tidak ada perempuan yang menginginkan untuk didua maupun menjadi kedua. Kebanyakan perempuan itu egois, selalu menginginkan dirinya menjadi yang pertama dan utama. Maka hal yang lumrah apabila kaum feminis menyuarakan pendapatnya mengenai kesetaraan serta diskriminasi terhadap perempuan dalam tindakan poligami. Pada hakikatnya, poligami adalah suatu tindakan dimana peran laki-laki menjadi lebih dominan daripada perempuan. Bahkan, syarat untuk meminta ijin pada isteri pertama sebelum berpoligami pun tidak ditetapkan hukumnya secara tersurat didalam Al-Quran. Itu artinya, meskipun suami menikah lagi dengan perempuan kedua, ketiga, dan seterusnya tanpa seijin isteri pertama, hukumnya tetap sah secara Islam meskipun berbanding terbalik dengan Undang-Undang.
            Dari berbagai kasus Poligami yang beredar, terdapat beberapa alasan popular yang menguatkan tindakan berpoligmi. Hal pertama yang menjadi acuan adalah termaktubnya anjuran berpoligmai dalam Al-Quran serta perilaku Rasulullah yang jika kita melakkukannya , maka akan dianggap cinta sunnah. Dimana Nabi Muhammad SAW sendiri memiliki isteri lebih dari satu. Oleh karenanya, orang-orang yang berkata cinta Rasul pun turut mengembangkan serta mengaplikasikannya dialam nyata. Bagi saya peristiwa ini merupakan masalah serius umat, dimana para ‘makhluk biasa’ mulai menyetarakan dirinya dengan ‘makhluk luar biasa’ bak Rasul saja. Tidakkah para pelaku Poligami dijaman global ini begitu angkuh dan sombong sehingga menyetarakan kemampuannya dengan kemampuan Rasul? Sangat jelas harusnya bahwa syarat utama dalam berpoligami adalah ketika diri merasa mampu dan dapat berlaku adil terhadap isteri-isterinya. Adil sendiri mengandung makna yang sangat luas, terkecuali dalam hal perasaan karena memang tiada yang mampu adil dalam perasaan. Namun mampukah seorang suami berlaku adil dalam pemberian perhatian? Kebanyakannya di jaman ini, bukan lagi janda-janda yang menjadi sorotan utama untuk dijadikan ‘koleksi tambahan’. Melainkan para gadis-gadis muda yang jauh lebiih segar dalam pandangan. Hal inilah yang kemudian diragukan keabsahan perhatian. Jangankan bertiga, ketika berdua saja perhatian tak mampu sempurna diberikan. Apalagi menghadapi dua kepribadian yang memili pelbagai karakteristik dan keinginan. Hal itu barulah perihal isteri, belum lagi ketika generasi-generasi semakin bertambah. Lahir satu demi satu, yang kecil menggemaskan  sehingga yang besar tidak lagi dipeduliikan, kurang perhatian. Cobalah dipikirkan, tentu akan mudah terjadi ketimpangan dan akan terjadi banyak keirian. Mungkin para Ibu bisa paham, namun bagi anak? Mereka hanya tahu bahwa lelaki dewasa itulah sang ayah. Mereka tidak paham, bahwa juga ada saudara dari Ibu berbeda yang juga membutuhkan ayah mereka. Cukup, jangan permainkan hati mereka. Untuk itu, tak perlulah berlindung dibalik sunnah, dan membenarkan poligami berdasarkan kata nyunnah.
            Alasan kedua yang tak kalah popular dari sunnah yaitu argumentasi bahwa libido (seksualitas) lelaki jauh lebih tinggi daripada wanita sehingga lelaki merasa perlu untuk memenuhi hasratnya dengan kembali menambah cadangan untuk memuaskan nafsu birahinya. Inilah politik cinta lelaki pengecut, selalu menginginkan kesetiaan perempuan namun dia sendiri mudah tergoda. Tidak sedikit laki-laki menyuarakan pendapatnya bahwa mereka begitu mudah terangsang akan fisik dan kelenturan tubuh perempuan walau hanya melihat sepintas mulusnya kaki dan manisnya wajah. Padahal didalam Al-Quran sendiri telah ada anjuran dan solusi yang tepat tanpa harus memenuhi kebutuhan biologisnya denngan berpoligami. Didalam Al-Quran surah An-Nur ayat 31 dituliskan :
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Jika saja semua lelaki mampu memahami dan mempraktikkan panduan Al-Quran untuk menjaga dan menundukkan pandangan, maka kasus-kasus poligami beralasan libido lelaki yang tinggi dapat diperkecil kemungkinannya. Salah satu tokoh Feminis muslim asal Pakistan, Dr. Asma Barlas menyuarakan pendapatnya bahwa kebanyakan muslim yang memiliki lebih dari satu isteri sangat tidak Qurani, karena mereka mengabaikan bahwa pernikahan tidak boleh dilakukan demi nafsu saja. Lebih dari itu, pernikahan bukan hanya untuk memuaskan birahi laki-laki. Bahkan dalam Quran sendiri, tidak pernah disebutkan bahwa lelaki diberi karunia nafsu atau libido yang lebih tinggi dari perempuan. Oleh karenanya, bohong jika ada lelaki yang menikahi perempuan lebih dari satu istri demi menggapai suatu kesalehan semata.
              Fakta ketiga dari alasan popular poligami agaknya menyakitkan hati siapa saja perempuan yang memiliki hati, yaitu ketidakmampuan seorang isteri untuk memberi keturunan pada suami. Dengan kata lain, suami mampu dan memiliki kualitas sperma yang mumpuni namun tidak dibarengi dengan kemampuan isteri dikarenakan tiadanya sel telur lagi atau bahkan tidak pernah ia miliki. Hal inilah yang kemudian memicu banyak lelaki untuk menambah isteri lagi dan mengesampingkan perasaan isteri yang tidak mampu untuk memberi. Padahal jika lebih dipikirkan lagi, isteri jauh lebih sakit. Kebutuhan isteri akan hadirnya anak lebih dari butuhnya seorang suami. Faktanya, isteri yang ditinggal menghadap Illahi oleh suami kebanyakannya akan tetap setia dan mengikrarkan dirinya pada suami terdahulunya hingga mati. Jika ia memiliki anak, maka anaklah yang akan menjadi item nomor wahid baginya. Tanpa anak, masa tuanya akan terasa suram, karena masa depan hidupnya ada pada anak tercinta. Jika tidak memilikinya, maka hilang sudah masa depan idamannya. Fakta selanjutnya, ketika lelaki ditinggal pergi isteri kebanyakannya memilih untuk menikah lagi dengan disertai alasan butuh teman hidup untuk berbagi dan mengurus diri. Meskipun ada anak yang ditinggalkan dari pernikahan sebelumnya, seringkali tidak diperdulikan dan beranggapan bahwa anak pasti mau menerima, karena ia juga butuh Mama. Sehingga, kurang tepat menurut saya jika menikah untuk mendapat keturunan saja. Toh keturunan juga bisa didapatkan melalui adopsi. Memang jauh berbeda dari darah daging sendiri, namun setidaknya dapat memenuhi kebutuhan akan hadirnya sosok penghibur diri. Jika mau merawatnya sejak bayi, maka hadirnya perasaan memiliki akan tumbuh nanti. Sesuatu yang tak biasa akan menjadi biasa jika kita ikhlas menerima. Jadi, penerimaan diri akan apa adanya isteri jauh lebih menentramkan rumah tangga daripada harus saling menyakiti dan menikah lagi.
              Fakta terakhir, berpoligami untuk membantu meminimalisir banyaknya perempuan single karena jumlah lelaki yang semakin hari jumlahnya semakin menipis di bumi. Oleh karenanya, para poligami Lovers beralasan untuk membantu para perempuan merasakan indah dan nikmatnya berumah tangga meskipun hanya menjadi yang kedua. Padahal jika kita kaji lagi, tidak ada seorang pun yang sebenarnya ditakdirkan sendiri. Jodoh, maut, dan rezeki sudah diatur dengan ketentuan yang pasti oleh Illahi. Entah itu di bumi atau di surga nanti, seorang adam akan bertemu juga dengan sang bidadari. Abaikan saja alasan klise ini, ambil hikmah kesendirian bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dijadikan sebagai pilihan.
              Laki-laki sebelum berpoligami, setidaknya mendengarkan kata hati apabila kelak ia memiliki putri yang tersakiti hati oleh suami karena di poligami. Jika memang laki-laki itu memiliki hati tatkala memikirkan hal ini apabila terjadi pada darah daging sendiri, tentu poligami dapat dihindari. Setidaknya dapat mengambil contoh dari Rasulullah, beliau memikirkan hati sang putri ketika Sayyidina Ali hendak dinikahkan lagi.
Dari Miswar bin Makromah, beliau pernah mendengar saat Rasululllah berada diatas mimbar, beliau bersabda : “sesungguhnya Bani Hasyim bin Mughirah meminta jzin untuk menikahkan Ali dengan puteri mereka, lalu Rasulullah bersabda : aku tidak mengijinkannya, aku tidak mengijinkannya, aku tidak mengijinkannya, karena sesungguhnya aku lebih mencintai Ali menceraikan puteriku, daripada menikahkannya dengan puteri mereka, karena puteriku adalah darah dagingku, aku senang dengan apa yang darah dagingku senang, dan aku merasa tersakiti dengan apa yang darah dagiingku merasa tersakiti dengan hal itu.” (HR. Muslim)
Selanjutnya diberikan penekanan bahwa :
“Sesungguhnya aku tidak mengharamkan sesuatu yang halal, dan tidak juga menghalalkan sesuatu yang haram, tetapi demi Allah, aku tidak bisa menghimpunkan puteri musuh Allah pada satu orang (Ali).
Dari penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa Rasulullah menolak Ali menikah lagi karena takut bahwa puteri beliau (Fatimah) akan tersakiti karenanya. Kedua, karena perempuan yang akan dinikahkan dengan Ali adalah puteri musuh Allah (Abu Jahal). Hemat kata, Rasulullah seorang junjungan, orang mulia, begitu memikirkan perasaan puterinya. Jadi, sebelum para lelaki memutuskan untuk berpoligami, pikirkanlah jika Ibu, adik, kakak, maupun anak perempuannya kelak akan dipoligami oleh suaminya. Cobalah menempatkan diri dalam posisi perempuan, meski tidak akan persis sama tapi paling tidak dapat merasakan sedikit bagaimana sedih dan kecewanya perempuan yang direnggut kepemilikan suami oleh saudaranya (perempuan lain).
            Demikian kalimat demi kalimat sederhana yang mampu saya sampaikan sebagai perwakilan daripada mayoritas kaum Hawa penentang Poligami dan dimadu cintanya. Bukan maksud menempatkan diri sebagai Bunda Khadijah, yang selama berumah tangga dengan Rasulullah tidak pernah dimadu oleh baginda, begitu pula dengan Fatimah yang seumur hidupnya tidak pernah dimadu cintanya oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, suaminya. Saya dan para hawa hanyalah perempuan biasa, wanita akhir jaman selalu mencoba untuk menjadi bidadari surga dunia bagi suaminya. Tiada keinginan untuk menentang hukum Allah serta Sunnah Rasulullah, hanya menyuarakan keinginan tanpa sebuah pemaksaan. Untuk lelaki, sampingkan ego, abaikan nafsu, karena begitu bayak jalan untuk mencintai sunnah selain berpoligami. Janganlah nodai ranjang pernikahan pertama anda hanya karena kuatnya nafsu birahi, atau karena ada perempuan yang lebih sempurna sehingga berlindung dibalik sunnah dan dalil-Nya. Pandangi wajah isteri anda, lihatlah lelah serta cinta dan pengorbanannya, ada begitu banyak cinta pada dirinya. Lihatlah kembali foto pernikahan di meja atau di dinding rumah anda, ada sebuah senyum yang terukir sempurna disamping anda, ia siap dan menerima anda apa adanya. Cukup satu, dia saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar