Poligami.
Delapan kata controversial di telinga kaum hawa. Bagaimana tidak, karena lagi
dan lagi menyangkut hati serta cinta. Sebuah rasa yang amat sensitif bagi
wanita, merupakan hal yang mampu mengubah wanita sederhana menjadi gelap mata
hingga marah membabi buta. Entah apa yang ada dimata kaum pria, hal yang dapat
kita tangkap sebagai wanita hanyalah tawa penuh kemenangan darinya apabila
perkara poligami diperbingcangkan didepannya. Seolah-olah mendapat durian
runtuh serta hujan milyaran uang saja. Mustahil apabila tidak ada rasa senang
karena hanya pria yang mampu dan boleh melakukan, sedang wanita diharamkan
atasnya. Ya, Poligami dianjurkan sedang Poliandri diharamkan. Sebuah
diskriminasi apabila ditafsirkan makhluk-makhluk awam yang tidak memahami makna
pengharaman.
Poligami. Sebuah hal tak lazim dan
mampu membuat pelbagai spekulasi bagi kaum hawa. Jangankan mencicipi,
melihatnya saja sudah sangat tak
bernafsu. Jangankan mengiklaskan, untuk sekedar mengatakan ‘Ya’ saja sungguh
tidak mampu. Bohong jika ada yang mengaku mampu dan ikhlas menerima, karena
sejatinya wanita itu egois dan lembut hatinya.
Faktanya, kebanyakan wanita segera mengerutkan kening, merinding,
menggetarkan bahu hingga meneteskan puluhan rintik hujan yang sudah tidak mampu dipertahankan dalam
bendungan, Oleh karena itu, pahamilah para lelaki. Perasaan seorang istri jauh
lebih halus dari halusnya debu. Jauh lebih tersaayat melebihi daging yang
diiris pisau berkarat.
Didalam
Quran surah An-Nisa; 3, Allah SWT berfirman
yang terjemahnya :
“... maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu
senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku
adil, maka (kawinilah) seorang saja. Atau budak-budak yang kamu miliki. Yang
demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
Tanpa mendalami ayat itu pun telah nampak dengan sangat jelas, bahwa Allah sendiri didalam ayat-ayat cinta-Nya menyampaikan anjuran untuk berpoligami bagi lelaki. Tentu
merupakan hal yang tak bisa dielak sebagai hamba beriman, harus percaya lagi
meyakini dengan sepenuh hati dan tak boleh mengingkari. Tidak sulit bagi pria
untuk mencari dalil untuk mengkokohkan keinginan berpoligami, karena Al-Quran
sendiri telah memenuhi sebagai alasan yang tak terbantahkan.
Namun
tidak semudah itu, Allah SWT kembali menegaskan dalam firman-Nya pada surah
yang sama ayat 129 :
“Dan
kamu tidak dapat berlaku adil di antara isteri-isterimu meskipun kamu sangat
ingin berlaku demikian, karena itu janganlah kamu cenderung (kepada yang kamu
cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Jika kamu mengadakan
perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan). Maka sesungguhnya Allah Maha
Pengampun dan Maha Penyayang.”
Sebuah
kabar gembira bagi kaum wanita, karena Allah berlaku adil sehingga menurunkan
ayat diatas sebagai bahan renungan teruntuk kaum yang mengagung-agungkan poligami.
Hemat kata, keadilan merupakan tolok ukur pertama dan paling utama bagi Poligami Lovers sebelum melangkah maju
dan mengikrarkan diri telah mampu untuk menghadirkan koleksi wanita baru.
Jika
dilihat dari perspektif wanita sebagai makhluk penunggu nahkoda mejemputnya mengarungi
samudera rumah tangga, maka Poligami jelas tidak adil dan merupakan sebuah
diskriminasi. Tidak ada kesetaraan yang membuat wanita dapat dengan bangga
menyatakan bahwa dirinya beruntung. Sangat tidak etis apabila seorang wanita
telah begitu setia menunggu pangerannya, menerima pinangannya, dan mau
mengikuti langkah suaminya, harus jatuh martabatnya
seketika hanya karena ketidakpuasan apalagi keterbatasan. Tidak adil bagi
wanita, sangat tidak adil apabila karena kekurangan dan keterbatasannya dalam
suatu hal membuat suaminya merasa bosan, tidak puas, lalu mencari tambahan dan
sandaran baru untuk memenuhi hasrat hatinya. Sedang isteri sebelumnya, harga
dirinya hancur dan ranjang kebanggaan menjadi kenangan.
Kaum
adam harus paham dan megkaji ulang secara mendalam akan beratnya keputusan yang
diambil para wanita untuk menancapkan kata ‘ya’ atau ‘siap’ untuk menerjunkan
diri kedalam gerbang pernikahan. Seorang wanita akan mengalami perubahan besar
ketika kata ‘siap’ meluncur dari bibirnya. Dengannya, semua masalah baru di
alam kedewasaan bermula. Ya, wanita akan mengalami metamorphosis hebat apabila
ia telah melangkahkan kakinya menuju pernikahan bersama lelaki pilihan. Awal
mula, ia harus membuang jauh sifat ketergantungannya terhadap Ibu dan Bapak.
Kedua, aka nada penghuni baru yang berlawanan jenis dengannya didalam satu
ruang tertutup dan boleh melakukan apa saja terhadap ia serta tubuhnya. Ketiga,
ia dituntut untuk mampu bersosialisasi terhadap siapa saja keluarga, sanak
saudara, serta rekan suaminya. Selanjutnya, hal terbesar yang harus ia lalui
adalah melahirkan generasi-generasi cinta antara ia dan suaminya, lalu kembali
membagi kasih sayang dan membesarkan putera-puterinya dengan penuh pengorbanan.
Telah
dipaparkan pada paragraph diatas, bahwa seorang wanita akan sangat mudah
mengorbankan dirinya untuk para makhluk terkasih dihatinya. Meski demikian,
jangan pernah mencoba untuk merendahkan dirinya melalui hubungan yang katanya
sunnah Rasul junjugan. Hati wanita itu ibarat sutera, sangat lembut, dan
memberi kenyamanan. Namun jika salah pengaplikasiannya, maka akan mempermalukan
pemakainya. Ketika laki-laki mampu
menempatkannya pada posisi ternyaman, maka ia akan mencurahkan segala kemampuan
kepada lelaki tersayang. Wanita itu sangat mendalam ketika mencintai, namun
ketika ia disakiti sedikit saja, maka jangan salahkan jika ia akan hancur dan
menghilang dari kepribadian manisnya. Wanita adalah makhluk ekspresif, jika ia
cinta maka ia akan menyampaikan lewat tingkah lakunya. Oleh karenanya, ia
jarang mampu mengungkapkan cinta lewat kata, karena baginya sebuah tindakan
nyata adalah wujud cinta yang paling berharga. Tidak seperti pria yang biasanya
menyampaikan iisi hatinya melalui kata saja, sedang perbuatannya nampak jauh
dari rasa kata yang disampaikannya.
Pertanyaan
klise dan sangat mendasar bagi kaum pria, tak mampukah bertahan pada satu hati
dan menemaninya hingga akhir hayat? Sedikit sekali lelaki yang sadar bahwa bagi
perempuan bahagia itu sangatlah sederhana. Mengutip kalimat Pak B.J Habibie,
bahwa seorang perempuan tidak memerlukan laki-laki yang sempurna, cukup orang
yang selalu membuatnya bahagia dan membuatnya lebih berarti dari siapapun di
hatinya. Ya, wanita tidak membutuhkan materi dan berbagai aksesoris lainnya,
mereka hanya priorotas nomor kesekian. Cukup perhatian, dan kehadiran yang
menyadarkannya bahwa ia lah poros utama kehidupan pasangannya. Cukup dia,
wanita lain kelaut saja (kecuali Ibu).
Mungkin
tidak terfikirkan oleh para lelaki, bahwa kecintaan seorang perempuan jauh
melebihi rasa cinta lelaki kepadanya. Percayalah, ekspresi cinta perempuan jauh lebih berwarna daripada seorang lelaki. Karena
cintanya, perempuan rela untuk meninggalkan kedua orang tua yang sejak bayi merawat dan melindunginya.
Karena cintanya, ia rela berkumpul bahkan hidup satu atap bersama mertua serta adik maupun
kakak iparnya. Karena cintanya, perempuan lagi-lagi rela mengorbankan dirinya untuk melahirkan generasi-generasi
penerus cinta suaminya.
Hingga seterusnya, pengorbanan-pengorbanan yang tak terkira batasnya. Faktanya,
lebih banyak lagu-lagu yang mengagung-agungkan sosoknya daripada pengagungan
kepada para lelaki. Itu artinya, peran wanita dan perasaan kasih sayangnya
tidak akan pernah bisa terhapuskan. Hal inilah yang harus dibaca kembali oleh hati para lelaki yang
berniat untuk menambah isteri lagi, baik satu, dua, tiga, bahkan empat. Satu
hal yang seringkali laki-laki lupakan dalam berpoligami, bagaimana perasaan isteri apabila barang berharga miliknya turut dinikmati perempuan selainnya? Tidakkah itu menyakitkan? Mengapa ada
poligami dalam islam selain untuk Rasul junjungan?
Sejatinya,
tidak ada perempuan yang menginginkan untuk didua maupun menjadi
kedua. Kebanyakan perempuan itu egois, selalu
menginginkan dirinya menjadi yang pertama dan utama. Maka hal yang lumrah apabila kaum feminis menyuarakan
pendapatnya mengenai kesetaraan serta diskriminasi terhadap perempuan dalam
tindakan poligami. Pada hakikatnya, poligami adalah suatu tindakan dimana peran
laki-laki menjadi lebih
dominan daripada perempuan. Bahkan, syarat untuk meminta ijin pada isteri pertama
sebelum berpoligami pun tidak ditetapkan hukumnya secara tersurat didalam
Al-Quran. Itu artinya, meskipun suami menikah lagi dengan perempuan kedua, ketiga, dan seterusnya tanpa seijin isteri pertama, hukumnya tetap sah secara Islam meskipun berbanding terbalik dengan Undang-Undang.
Dari berbagai kasus Poligami yang beredar, terdapat beberapa alasan popular yang menguatkan
tindakan berpoligmi. Hal pertama yang menjadi acuan adalah
termaktubnya anjuran berpoligmai dalam Al-Quran serta perilaku Rasulullah yang jika
kita melakkukannya , maka akan dianggap cinta sunnah. Dimana Nabi Muhammad SAW
sendiri memiliki isteri lebih dari satu. Oleh karenanya, orang-orang yang
berkata cinta Rasul pun turut mengembangkan serta mengaplikasikannya dialam
nyata. Bagi saya peristiwa ini merupakan
masalah serius umat, dimana para ‘makhluk biasa’ mulai
menyetarakan dirinya dengan ‘makhluk luar biasa’ bak Rasul saja. Tidakkah para pelaku Poligami dijaman
global ini begitu angkuh dan sombong sehingga menyetarakan kemampuannya dengan
kemampuan Rasul? Sangat jelas harusnya bahwa syarat utama dalam berpoligami
adalah ketika diri merasa mampu dan dapat berlaku adil terhadap isteri-isterinya.
Adil sendiri mengandung makna yang sangat luas, terkecuali dalam hal perasaan karena
memang tiada yang mampu adil dalam perasaan. Namun mampukah seorang suami
berlaku adil dalam pemberian perhatian? Kebanyakannya di jaman ini, bukan lagi
janda-janda yang menjadi sorotan utama untuk dijadikan ‘koleksi tambahan’.
Melainkan para gadis-gadis muda yang jauh lebiih segar dalam pandangan. Hal
inilah yang kemudian diragukan keabsahan perhatian. Jangankan bertiga, ketika
berdua saja perhatian tak mampu sempurna diberikan. Apalagi menghadapi dua
kepribadian yang memili pelbagai karakteristik dan keinginan. Hal itu barulah
perihal isteri, belum lagi ketika generasi-generasi semakin bertambah. Lahir
satu demi satu, yang kecil menggemaskan sehingga yang besar tidak lagi dipeduliikan,
kurang perhatian. Cobalah dipikirkan, tentu akan mudah terjadi ketimpangan dan
akan terjadi banyak keirian. Mungkin para Ibu bisa paham, namun bagi anak?
Mereka hanya tahu bahwa lelaki dewasa itulah sang ayah. Mereka tidak paham,
bahwa juga ada saudara dari Ibu berbeda yang juga membutuhkan ayah mereka.
Cukup, jangan permainkan hati mereka. Untuk itu, tak perlulah berlindung
dibalik sunnah, dan membenarkan poligami berdasarkan kata nyunnah.
Alasan kedua yang tak kalah popular
dari sunnah yaitu argumentasi bahwa libido (seksualitas) lelaki jauh lebih
tinggi daripada wanita sehingga lelaki merasa perlu untuk memenuhi hasratnya
dengan kembali menambah cadangan untuk memuaskan nafsu birahinya. Inilah
politik cinta lelaki pengecut, selalu menginginkan kesetiaan perempuan namun
dia sendiri mudah tergoda. Tidak sedikit laki-laki menyuarakan pendapatnya bahwa
mereka begitu mudah terangsang akan fisik dan kelenturan tubuh perempuan walau
hanya melihat sepintas mulusnya kaki dan manisnya wajah. Padahal didalam
Al-Quran sendiri telah ada anjuran dan solusi yang tepat tanpa harus memenuhi
kebutuhan biologisnya denngan berpoligami. Didalam Al-Quran surah An-Nur ayat
31 dituliskan :
Katakanlah kepada orang laki-laki yang
beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Jika saja semua lelaki
mampu memahami dan mempraktikkan panduan Al-Quran untuk menjaga dan menundukkan
pandangan, maka kasus-kasus poligami beralasan libido lelaki yang tinggi dapat
diperkecil kemungkinannya. Salah satu tokoh Feminis muslim asal Pakistan, Dr.
Asma Barlas menyuarakan pendapatnya bahwa kebanyakan muslim yang memiliki lebih
dari satu isteri sangat tidak Qurani, karena mereka mengabaikan bahwa
pernikahan tidak boleh dilakukan demi nafsu saja. Lebih dari itu, pernikahan
bukan hanya untuk memuaskan birahi laki-laki. Bahkan dalam Quran sendiri, tidak
pernah disebutkan bahwa lelaki diberi karunia nafsu atau libido yang lebih
tinggi dari perempuan. Oleh karenanya, bohong jika ada lelaki yang menikahi
perempuan lebih dari satu istri demi menggapai suatu kesalehan semata.
Fakta ketiga dari alasan popular poligami agaknya menyakitkan
hati siapa saja perempuan yang memiliki hati, yaitu ketidakmampuan seorang
isteri untuk memberi keturunan pada suami. Dengan kata lain, suami mampu dan
memiliki kualitas sperma yang mumpuni namun tidak dibarengi dengan kemampuan
isteri dikarenakan tiadanya sel telur lagi atau bahkan tidak pernah ia miliki.
Hal inilah yang kemudian memicu banyak lelaki untuk menambah isteri lagi dan
mengesampingkan perasaan isteri yang tidak mampu untuk memberi. Padahal jika lebih
dipikirkan lagi, isteri jauh lebih sakit. Kebutuhan isteri akan hadirnya anak
lebih dari butuhnya seorang suami. Faktanya, isteri yang ditinggal menghadap
Illahi oleh suami kebanyakannya akan tetap setia dan mengikrarkan dirinya pada
suami terdahulunya hingga mati. Jika ia memiliki anak, maka anaklah yang akan
menjadi item nomor wahid baginya. Tanpa anak, masa tuanya akan terasa
suram, karena masa depan hidupnya ada pada anak tercinta. Jika tidak
memilikinya, maka hilang sudah masa depan idamannya. Fakta selanjutnya, ketika lelaki
ditinggal pergi isteri kebanyakannya memilih untuk menikah lagi dengan disertai
alasan butuh teman hidup untuk berbagi dan mengurus diri. Meskipun ada anak
yang ditinggalkan dari pernikahan sebelumnya, seringkali tidak diperdulikan dan
beranggapan bahwa anak pasti mau menerima, karena ia juga butuh Mama. Sehingga,
kurang tepat menurut saya jika menikah untuk mendapat keturunan saja. Toh
keturunan juga bisa didapatkan melalui adopsi. Memang jauh berbeda dari darah
daging sendiri, namun setidaknya dapat memenuhi kebutuhan akan hadirnya sosok
penghibur diri. Jika mau merawatnya sejak bayi, maka hadirnya perasaan memiliki
akan tumbuh nanti. Sesuatu yang tak biasa akan menjadi biasa jika kita ikhlas
menerima. Jadi, penerimaan diri akan apa adanya isteri jauh lebih menentramkan
rumah tangga daripada harus saling menyakiti dan menikah lagi.
Fakta terakhir, berpoligami untuk membantu
meminimalisir banyaknya perempuan single karena jumlah lelaki yang
semakin hari jumlahnya semakin menipis di bumi. Oleh karenanya, para poligami Lovers
beralasan untuk membantu para perempuan merasakan indah dan nikmatnya
berumah tangga meskipun hanya menjadi yang kedua. Padahal jika kita kaji lagi,
tidak ada seorang pun yang sebenarnya ditakdirkan sendiri. Jodoh, maut, dan
rezeki sudah diatur dengan ketentuan yang pasti oleh Illahi. Entah itu di bumi
atau di surga nanti, seorang adam akan bertemu juga dengan sang bidadari.
Abaikan saja alasan klise ini, ambil hikmah kesendirian bahwa mendekatkan diri
kepada Tuhan dapat dijadikan sebagai pilihan.
Laki-laki sebelum berpoligami, setidaknya mendengarkan
kata hati apabila kelak ia memiliki putri yang tersakiti hati oleh suami karena
di poligami. Jika memang laki-laki itu memiliki hati tatkala memikirkan hal ini
apabila terjadi pada darah daging sendiri, tentu poligami dapat dihindari.
Setidaknya dapat mengambil contoh dari Rasulullah, beliau memikirkan hati sang
putri ketika Sayyidina Ali hendak dinikahkan lagi.
Dari Miswar bin
Makromah, beliau pernah mendengar saat Rasululllah berada diatas mimbar, beliau
bersabda : “sesungguhnya Bani Hasyim bin Mughirah meminta jzin untuk menikahkan
Ali dengan puteri mereka, lalu Rasulullah bersabda : aku tidak mengijinkannya,
aku tidak mengijinkannya, aku tidak mengijinkannya, karena sesungguhnya aku
lebih mencintai Ali menceraikan puteriku, daripada menikahkannya dengan puteri
mereka, karena puteriku adalah darah dagingku, aku senang dengan apa yang darah
dagingku senang, dan aku merasa tersakiti dengan apa yang darah dagiingku merasa
tersakiti dengan hal itu.” (HR. Muslim)
Selanjutnya diberikan
penekanan bahwa :
“Sesungguhnya aku tidak
mengharamkan sesuatu yang halal, dan tidak juga menghalalkan sesuatu yang
haram, tetapi demi Allah, aku tidak bisa menghimpunkan puteri musuh Allah pada
satu orang (Ali).
Dari penjelasan di
atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa Rasulullah menolak Ali menikah lagi
karena takut bahwa puteri beliau (Fatimah) akan tersakiti karenanya. Kedua,
karena perempuan yang akan dinikahkan dengan Ali adalah puteri musuh Allah (Abu
Jahal). Hemat kata, Rasulullah seorang junjungan, orang mulia, begitu
memikirkan perasaan puterinya. Jadi, sebelum para lelaki memutuskan untuk
berpoligami, pikirkanlah jika Ibu, adik, kakak, maupun anak perempuannya kelak
akan dipoligami oleh suaminya. Cobalah menempatkan diri dalam posisi perempuan,
meski tidak akan persis sama tapi paling tidak dapat merasakan sedikit
bagaimana sedih dan kecewanya perempuan yang direnggut kepemilikan suami oleh
saudaranya (perempuan lain).
Demikian kalimat demi kalimat
sederhana yang mampu saya sampaikan sebagai perwakilan daripada mayoritas kaum
Hawa penentang Poligami dan dimadu cintanya. Bukan maksud menempatkan diri
sebagai Bunda Khadijah, yang selama berumah tangga dengan Rasulullah tidak pernah
dimadu oleh baginda, begitu pula dengan Fatimah yang seumur hidupnya tidak
pernah dimadu cintanya oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, suaminya. Saya dan
para hawa hanyalah perempuan biasa, wanita akhir jaman selalu mencoba untuk
menjadi bidadari surga dunia bagi suaminya. Tiada keinginan untuk menentang hukum
Allah serta Sunnah Rasulullah, hanya menyuarakan keinginan tanpa sebuah
pemaksaan. Untuk lelaki, sampingkan ego, abaikan nafsu, karena begitu bayak
jalan untuk mencintai sunnah selain berpoligami. Janganlah nodai ranjang
pernikahan pertama anda hanya karena kuatnya nafsu birahi, atau karena ada
perempuan yang lebih sempurna sehingga berlindung dibalik sunnah dan dalil-Nya.
Pandangi wajah isteri anda, lihatlah lelah serta cinta dan pengorbanannya, ada
begitu banyak cinta pada dirinya. Lihatlah kembali foto pernikahan di meja atau
di dinding rumah anda, ada sebuah senyum yang terukir sempurna disamping anda,
ia siap dan menerima anda apa adanya. Cukup satu, dia saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar